Kamis, 21 April 2011

Tahun 2500, Bumi Tak Layak Huni Tahun 2500, Bumi Tak Layak Huni

Tahun 2500, Bumi Tak Layak Huni
Janet Botes
 
Bila tidak ada upaya pencegahan, tahun 2500 Bumi tak lagi layak dihuni akibat temperaturnya yang sangat tinggi.

Suhu rata-rata permukaan bumi yang pada tahun 2010 berada pada kisaran 14,6 derajat celsius. Pemamasan global menaikkan suhu bumi rata-rata 0,2 derajat celsius per 10 tahun atau 2 derajat celsius dalam 100 tahun. Artinya, suhu permukaan Bumi rata-rata menjadi 25 derajat Celcius pada tahun 2500. "Bumi tak akan lagi menjadi tempat hunian yang nyaman bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan. Bahkan sangat mungkin manusia tak akan dapat bertahan hidup pada kondisi seperti itu," tutur Prof. Dr. Jumina, Kepala Pusat Studi Energi UGM pada Senin (11/4) di Yogyakarta.

Peningkatan emisi CO2 secara terus-menerus menyebabkan para pakar lingkungan prihatin. Usaha untuk mengurangi emisi karbon dioksida dilakukan, antara lain melalui penandatanganan Protokol Kyoto pada 1999.

Data menunjukkan, sumbangan sektor energi terhadap emisi karbon dioksida dan fenomena pemanasan global sangat besar. Dengan demikian, demi mengurangi tingkat emisi karbon dioksida domestik dan menekan laju terjadinya pemanasan global, penerapan konsep energi bersih sangat diperlukan. "Energi bersih bisa diartikan sebagai energi ramah lingkungan, atau energi yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan," jelas Jumina.

Bila Indonesia dapat menerapkan konsep energi bersih, maka sistem energi yang dibangun bukan hanya menghasilkan keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan energi nasional, tapi juga dapat mewujudkan terciptanya lingkungan yang sehat, nyaman, dan lestari. "Sehingga sistem energi yang diterapkan akan bervisi jauh ke depan tanpa harus merampas hak dasar generasi penerus," kata Jumina.

Tapi kenyataannya, pengembangan teknologi energi bersih dan ramah lingkungan di Indonesia belum memuaskan karena keterbatasan kemampuan SDM. (K3-11)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar